BARRU – Pergerakan Mahasiswa IsIam Indonesia Komisariat IAI DDI Mangkoso (PMII Komisariat IAI DDI Mangkoso) melaksanakan Bincang Tokoh Seri 1 dengan tema “ZIARAH INTELEKTUAL SANG PENDEKAR PENA”.
Kegiatan ini berlangsung di Tanah Harapan Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulsel, 7 Oktober 2026 yang dihadiri oleh beberapa sahabat PMII Mangkoso dan juga mahasiswa IAI DDI Mangkoso.
PMII Komisariat IAI DDI Mangkoso berkolaborasi dengan PMII Rayon Tarbiyah dan Syariah IAI DDI Mangkoso dalam merawat tradisi intelektual, kegiatan bincang tokoh ini mengangkat salah satu tokoh besar yaitu, Ketua Umum pertama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yaitu Mahbub Djunaidi”.
“Mahbub merupakan tokoh besar yang namanya cukup terkenal dan mempunyai jejak karir yang tidak biasa, sehingga mendapatkan julukan Sang Pendekar Pena ujar Riski Arsyad, Sekertaris Komisariat PMII IAI DDI Mangkoso yang juga merupakan Ketua HMP Tarbiyah IAI DDI Mangkoso.
Dalam bincang tokoh yang diadakan PMII Komisariat IAI DDI Mangkoso menghadirkan tiga orang pembahas, yaitu: Sahabat Ahmad Irwanda (Sekertaris PC PMII Barru), Sahabat Mukhamad Akbar (Ketua Cabang PMII Barru), dan Sahabat Muhammad Suryadi R (Direktur Eksekutif Parametric Develoment Center).
Mahbub lahir di Jakarta, 27 Juli 1933, Ayahnya bernama KH. Moehammad Djunaidi, ia merupakan satu dari sekian banyak tokoh Betawi yang ikut berjuang dalam wadah Nahdatul Ulama(NU). Dari segi karir dan pengalaman Mahbub Djunaidi sudah menciptakan beberapa karyanya. Sehingga menimbulkan pertanyakan, Bagaimana pemikiran Mahbub Djunaidi? dan apakah masi relevan Mahbub Djunaidi dibicarakan hari ini?
Dalam perjalanan sejarah sang pendekar pena (Mahbub Djunaidi) dikenal karena pemikiran nya dan cara dia mengkritik. Dia tidak mengkritik dengan cara demonstran, tetapi dengan cara tulisan yang dia ciptakan, keunikan tulisan Mahbub Djunaidi karena dia menggunakan gaya tulisan Satire dan Humoris, itulah yang membuat tulisan yang ditulisnya pada saat mahasiswa sempat dilirik oleh tokoh besar termasuk Ir. Soekarno ujarnya, Muhammad Suryadi R (Direktur Eksekutif Parametric Develoment Center).
Kegiatan yang dilaksanakan oleh PMII Komisariat IAI DDI Mangkoso bukan hanya untuk merefleksikan pemikiran sang pendekar pena (Mahbub Djunaidi), tetapi, bagaimana kita merealisasikan pemikiran nya di era sekarang. Mengkritik tidak harus turun ke jalan, tetapi mengkritik juga bisa melalui tulisan, itulah yang dilakukan oleh Mahbub Djunaidi melihat dinamika politik di Indonesia pada abad ke-20. Walaupun pada era orba semua bentuk kritikan, baik menggunakan tulisan maupun tidak dan menyinggung kekuasaan pasti akan dibungkam.
Pada masa orba terkenal dengan istilah petrus dan matrus, tetapi, itu tidak membuat seorang Mahbub Djunaidi berhenti untuk mengkritik kebijakan dan kondisi Indonesia waktu itu, karena seorang intelektual tidak mudah untuk dibodohi dan dipermainkan. Karenanya, pikiran dan keberanian Mahbub Djunaidi itulah yang harus dimiliki mahasiswa sekarang agar tetap berada di poros intelektual yang terus merawat nalar-nalar kritisnya melihat kondisi negara ini.
Penulis : Uul
Editor : Akbar
Sumber Berita: Narasi Sulsel










