Esai Reflektif Religius
Oleh: Farhani Islami, S.Pd., M.Pd.
Guru DDI Gusung, Makassar
Narasisulsel.id – Hari ini aku menangisi keindahan hidupku. Bukan karena hidupku sempurna, tetapi karena perlahan aku menyadari bahwa selama ini aku telah hidup begitu dekat dengan rahmat-Mu, ya Allah.
Sering kali aku sibuk menghitung apa yang kurang, sampai lupa menghitung begitu banyak hal yang telah Engkau cukupkan.
Dengan penghasilan yang terkadang, menurut perhitunganku, terasa mustahil untuk mencukupi semuanya, Engkau justru selalu mendatangkan rezeki dari jalan-jalan yang tidak pernah aku sangka.
Ada saja pertolongan-Mu. Ada saja jalan yang Engkau bukakan. Ada saja kecukupan yang datang tepat ketika aku merasa tidak mampu.
Dengan rezeki itu, Engkau masih mengizinkan kami melunasi kewajiban dan tanggung jawab yang telah kami ambil. Masih Engkau beri kemampuan untuk memenuhi kebutuhan. Masih Engkau beri kesempatan menikmati hal-hal yang kami inginkan. Bahkan, masih Engkau lapangkan langkah kami untuk menghadiri hajatan, bersilaturahmi, dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Kalau bukan karena rahmat-Mu, dari mana semua itu datang?
Aku sering mengira sedang mengusahakan hidupku sendiri.
Padahal, mungkin selama ini akulah yang sedang diusahakan oleh-Mu.
Aku menyangka rezeki itu datang karena kerja kerasku.
Padahal, Engkaulah yang memberikan tenaga untuk bekerja, akal untuk berpikir, kesempatan untuk berusaha, orang-orang yang membantu, dan jalan-jalan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
Betapa sering aku takut akan hari esok, sementara Engkau tidak pernah sekalipun lalai terhadapku.
Betapa sering aku merasa kurang, sementara ternyata tangan-Mu telah begitu banyak memberi.
Betapa sering aku meminta sesuatu kepada-Mu, tanpa menyadari bahwa sebelum aku meminta pun, Engkau telah lebih dahulu mencukupkan begitu banyak hal dalam hidupku.
Ya Allah
Bagaimana mungkin aku tidak mencintai-Mu?
Bagaimana mungkin hatiku tidak tunduk kepada-Mu, sementara setiap hari hidupku adalah bukti bahwa Engkau begitu baik kepadaku?
Aku tidak punya apa-apa yang benar-benar milikku.
Kesehatanku adalah pemberian-Mu. Keluargaku adalah titipan-Mu. Rezekiku adalah pemberian-Mu. Kemampuanku bekerja adalah pertolongan-Mu.
Bahkan kemampuan hatiku untuk mengenal dan mencintai-Mu pun adalah karunia-Mu.
Maka, jika hari ini aku masih bisa tersenyum, masih bisa makan dengan tenang, masih bisa memenuhi kewajiban, masih bisa bersilaturahmi, dan masih bisa menikmati kehidupan sederhana yang Engkau berikan, semoga aku tidak lupa bahwa semua itu bukan semata-mata karena aku mampu.
Itu karena Engkau Maha Mencukupi.
Ya Allah, ampuni aku yang terlalu sering melihat apa yang belum Engkau berikan, hingga lupa mensyukuri apa yang telah Engkau titipkan.
Ampuni aku yang terkadang mengeluh atas sedikit kesulitan, padahal begitu banyak kemudahan yang telah Engkau sembunyikan di balik perjalanan hidupku.
Jangan biarkan nikmat-Mu membuatku lalai dari-Mu.
Jangan biarkan kelapangan membuatku merasa mampu tanpa-Mu.
Jangan biarkan rezeki membuatku mencintai dunia lebih daripada mencintai Pemiliknya.
Jadikan aku hamba yang ketika diberi, ia bersyukur.
Ketika ditahan, ia bersabar. Ketika diuji, ia tetap percaya. Dan ketika melihat kembali perjalanan hidupnya, ia hanya mampu berkata:
“Ya Allah, ternyata selama ini Engkau tidak pernah meninggalkanku. Aku saja yang sering lupa menyadari bahwa aku sedang berada di bawah naungan rahmat-Mu,”
Maka aku ingin belajar mencintai-Mu bukan hanya ketika doaku terkabul, tetapi juga ketika Engkau memilih menundanya.
Bukan hanya ketika hidup terasa mudah, tetapi juga ketika Engkau mengajarkanku sabar.
Bukan hanya karena Engkau memberiku apa yang kuinginkan, tetapi karena Engkau adalah Rabb-ku—Dzat yang sejak awal tidak pernah berhenti menjagaku, mencukupiku, dan menyayangiku dengan cara yang sering kali belum mampu kupahami.
Ya Allah
Jika selama ini hidupku indah, jangan jadikan aku terlalu sibuk menikmati keindahannya hingga lupa kepada Sang Pemberi keindahan.
Dan jika suatu hari hidupku terasa berat, ingatkan aku bahwa aku tetap memiliki-Mu.
Cukup Engkau, ya Allah.
Sebab ternyata, ketika aku benar-benar menghitungnya, hidupku bukanlah kumpulan keberhasilanku.
Hidupku adalah kumpulan rahmat-Mu yang begitu banyak, sampai-sampai aku sendiri malu karena terlalu sering mengira semuanya terjadi karena aku.
Alhamdulillah untuk setiap rezeki yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Alhamdulillah untuk setiap pertolongan yang datang diam-diam.
Alhamdulillah untuk setiap “cukup” yang Engkau hadirkan ketika aku merasa tidak akan cukup.
Dan semoga sampai akhir hidupku, aku tidak hanya menjadi orang yang menikmati nikmat-Mu, tetapi menjadi hamba yang semakin mengenal, mencintai, menaati, dan tunduk kepada-Mu.










