Narasisulsel.id Pangkep – Hasil tangkapan laut yang selama ini hanya dijual dalam kondisi segar kini mulai memiliki nilai tambah bagi masyarakat pesisir Pulau Kulambing, Desa Mattiro Uleng, Kabupaten Pangkep.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM), nelayan setempat didorong untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memanfaatkan pemasaran digital guna menjangkau pasar yang lebih luas.
Program yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 ini dipimpin oleh Mahmuddin bersama Nur Rahmi dan Iswahyudi Indra Putra dari UNM.
Kegiatan difokuskan pada pemberdayaan Kelompok Nelayan Cumi-Cumi yang diketuai Nawir, dengan melibatkan 20 anggota kelompok yang selama ini masih bergantung pada penjualan hasil tangkapan segar.
Kondisi tersebut membuat pendapatan nelayan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar serta tingginya risiko kerusakan produk.
Sebagai solusi, tim PKM UNM menghadirkan pelatihan dan pendampingan dalam pengolahan hasil laut menjadi keripik balado siap konsumsi.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga menghadirkan efisiensi dalam proses produksi. Jika sebelumnya pengolahan satu kilogram hasil laut membutuhkan waktu hingga dua jam, kini proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam sekitar 30 menit berkat penerapan teknologi pengolahan yang lebih efektif.
Selain mempercepat proses produksi, inovasi tersebut juga mampu memperpanjang daya simpan produk dari hanya beberapa hari menjadi berminggu-minggu.
Dampaknya, potensi kerugian akibat produk yang cepat rusak dapat ditekan, sementara peluang memperoleh keuntungan menjadi semakin besar.
Transformasi yang dilakukan tidak berhenti pada aspek produksi. Tim PKM juga membekali para nelayan dan keluarganya dengan keterampilan pemasaran digital melalui pemanfaatan media sosial, khususnya Instagram.
Peserta dilatih mengelola akun bisnis, membuat konten promosi yang menarik, serta menyusun strategi pemasaran digital agar produk olahan mereka dapat dikenal lebih luas, bahkan menembus pasar di luar wilayah kepulauan.
Pendekatan yang menggabungkan inovasi pengolahan pangan dan digitalisasi pemasaran ini diharapkan mampu memperkuat daya saing produk lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Nawir selaku Ketua Kelompok Nelayan Cumi-Cumi menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan.
Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi jawaban atas tantangan yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir, terutama dalam mengolah hasil tangkapan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Tim pelaksana PKM bersama masyarakat Pulau Kulambing menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), platform pendanaan BIMA, Universitas Negeri Makassar (UNM), serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNM atas dukungan dan hibah yang diberikan.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan lahir model pemberdayaan masyarakat pesisir yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan nelayan, serta menciptakan UMKM berbasis hasil laut yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.










