Narasisulsel.id Pangkep – Keterbatasan akses pasar selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi pelaku UMKM di wilayah kepulauan.
Produk berkualitas yang dihasilkan masyarakat pesisir kerap hanya dipasarkan di lingkungan sekitar karena minimnya teknologi pengolahan dan promosi. Kondisi inilah yang mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan solusi nyata di Pulau Kulambing, Desa Mattiro Uleng, Kabupaten Pangkep.
Selama tiga hari, 26–28 Juni 2026, tim PKM yang dipimpin Pahrul dari Universitas Negeri Makassar (UNM), bersama Sahade (UNM) dan Nur Syamsinar Munir dari Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, melaksanakan pendampingan kepada pelaku UMKM “Usaha Kue Ibu Asiah”. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperluas akses pemasaran melalui pemanfaatan teknologi digital.
Sebanyak 27 ibu rumah tangga mengikuti pelatihan dengan antusias. Mereka tidak hanya mendapatkan materi tentang pengolahan pangan yang baik, tetapi juga pendampingan langsung dalam menerapkan standar produksi yang lebih higienis melalui Good Manufacturing Practices (GMP).
Untuk mendukung proses tersebut, tim PKM menyerahkan peralatan pengemasan modern dan fasilitas produksi yang lebih higienis. Bantuan ini menjadi solusi atas tingginya tingkat kelembapan di wilayah kepulauan yang selama ini menyebabkan produk lebih cepat rusak dan sulit dipasarkan dalam jangka waktu lama.
Hasilnya mulai terlihat. Tingkat kerusakan produk yang sebelumnya mencapai sekitar 40 persen berhasil ditekan hingga di bawah 10 persen. Daya simpan kue tradisional pun meningkat secara signifikan hingga lebih dari 60 hari. Peningkatan kualitas ini membuka peluang bagi produk lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa mengurangi mutu.
Selain meningkatkan kualitas produksi, tim PKM juga memperkenalkan strategi pemasaran berbasis digital. Melalui pengembangan smart website, pelaku UMKM dibimbing memasarkan produknya secara daring sehingga tidak lagi bergantung pada pasar lokal. Dengan memanfaatkan teknologi, produk khas Pulau Kulambing kini memiliki peluang menjangkau konsumen di berbagai daerah.
Kepala Desa Kulambing, Lukman, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi desa.
“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami. Selain meningkatkan kualitas produk, warga juga memperoleh pengetahuan baru tentang pemasaran digital sehingga peluang usaha mereka menjadi lebih luas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nur Asiah, S.Pd., pimpinan UMKM mitra. Ia mengaku merasakan perubahan nyata setelah mengikuti pendampingan.
“Kami sangat bersyukur atas program ini. Kemasan produk menjadi lebih baik, daya simpannya lebih lama, dan kami kini mulai memahami cara memasarkan produk melalui internet. Ini menjadi peluang besar bagi usaha kami untuk terus berkembang,” katanya.
Jumarni, salah seorang peserta pelatihan, juga mengaku memperoleh banyak pengalaman baru.
“Kami belajar bagaimana menghasilkan produk yang lebih higienis dan berkualitas. Sekarang kami lebih percaya diri karena produk yang kami buat sudah siap dipasarkan ke luar pulau,” ungkapnya.
Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi pengembangan UMKM. Inovasi teknologi pengolahan pangan yang dipadukan dengan pemasaran digital diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya usaha-usaha lokal yang lebih kompetitif, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Tim pelaksana PKM bersama Pemerintah Desa Kulambing dan masyarakat menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), platform pendanaan BIMA, Universitas Negeri Makassar (UNM), serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNM atas dukungan pendanaan sehingga program ini dapat terlaksana dengan baik.










